Kopi Gayo (Gayo Coffee)
merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi
Gayo. Perkebunan Kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini
tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Ketiga daerah yang berada di ketinggian 1200 m dpl tersebut memiliki
perkebunan kopi terluas di Indonesia yaitu dengan luasan sekitar 94.800 hektar. Masing-masing di
Kabupaten Aceh Tengah 48.000 hektare yang melibatkan petani sebanyak
33.000 kepala keluarga (KK), Bener Meriah 39.000 hektare (29.000 KK)
dan 7.800 hektare di Kabupaten Gayo Lues dengan keterlibatan petani
sebanyak 4.000 KK.
Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia
Atas dedikasi dan kerjasama dalam menjaga kualitas Kopi Gayo miliknya, Persatuan Petani Kopi Gayo Organik (PPKO) di Tanah Gayo telah mendapat Fair Trade Certified™ dari Organisasi Internasional Fair Trade dan pada tanggal 27 Mei 2010, Kopi Gayo menerima sertifikat IG (Indikasi Geogafis) diserahkan kepada pemda oleh Menteri Hukum dan HAM Indonesia. Kemudian pada Event Lelang Special Kopi Indonesia tanggal 10 Oktober 2010 di Bali, kembali Kopi Arabika Gayo memperoleh score tertinggi saat Cupping Score. Sertifikasi dan prestasi tersebut kian memantapkan posisi Kopi Gayo sebagai Kopi Organik terbaik di Dunia.
HARGA KOPI GAYO
Harga kopi dari dataran tinggi Gayo diprediksi belum akan mengalami kenaikan dalam beberapa bulan ke depan. Harga kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah terus merosot sejak masa panen raya, dari harga gelondongan (buah merah) Rp 7.000/bambu dan green bean Rp 33.000/kg, kini kopi gelondongan dihargai Rp 4.500 sampai Rp 5.000/bambu, sedangkan green bean asalan hanya Rp 27.000 sampai Rp 28.000/kg. Faktor penyebab semakin turunnya harga kopi, karena di Brazil dan Kolombia yang juga Negara penghasil kopi sedang masa panen. “Harga di terminal New York juga turun drastis, bahkan terendah sejak 15 tahun terakhir,” ungkap General Manajer Koperasi Permata Gayo, Armia kepada MedanBisnis, Rabu (22/5).
Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia
Atas dedikasi dan kerjasama dalam menjaga kualitas Kopi Gayo miliknya, Persatuan Petani Kopi Gayo Organik (PPKO) di Tanah Gayo telah mendapat Fair Trade Certified™ dari Organisasi Internasional Fair Trade dan pada tanggal 27 Mei 2010, Kopi Gayo menerima sertifikat IG (Indikasi Geogafis) diserahkan kepada pemda oleh Menteri Hukum dan HAM Indonesia. Kemudian pada Event Lelang Special Kopi Indonesia tanggal 10 Oktober 2010 di Bali, kembali Kopi Arabika Gayo memperoleh score tertinggi saat Cupping Score. Sertifikasi dan prestasi tersebut kian memantapkan posisi Kopi Gayo sebagai Kopi Organik terbaik di Dunia.
HARGA KOPI GAYO
Harga kopi dari dataran tinggi Gayo diprediksi belum akan mengalami kenaikan dalam beberapa bulan ke depan. Harga kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah terus merosot sejak masa panen raya, dari harga gelondongan (buah merah) Rp 7.000/bambu dan green bean Rp 33.000/kg, kini kopi gelondongan dihargai Rp 4.500 sampai Rp 5.000/bambu, sedangkan green bean asalan hanya Rp 27.000 sampai Rp 28.000/kg. Faktor penyebab semakin turunnya harga kopi, karena di Brazil dan Kolombia yang juga Negara penghasil kopi sedang masa panen. “Harga di terminal New York juga turun drastis, bahkan terendah sejak 15 tahun terakhir,” ungkap General Manajer Koperasi Permata Gayo, Armia kepada MedanBisnis, Rabu (22/5).

kopi gayo khas aceh